Ayu Utami, Membantah Mantra, Membantah SubjekAyu Utami.

Dunia kepenulisan bukan hal yang akrab bagi Ayu Utami. Karirnya sebagai pengaran dimulai ketiak Ayu mengirimkan cerpen humor dalam lomba yang diadakan oleh majalah Humor sekitar tahun 1989, dan memperoleh juara harapan. Kemenangan tersebut menyeret Ayu Uami menjadi wartawan paruh waktu untuk Humor. Masih berlanjut. Karena kondisi geografis yang relatif dekat dengan Majalah Matra, Ayu Utami juga berelasi dekat, kemudian menjadi wartawan di majalah khusus trend pira.

Ayu meniti karir menjadi wartawan di Majalah Matra, Forum Keadilan, hingga Majalah D&R. Saat usianya 23 tahun, Ayu aktif mengisi kolom mingguan ‘Sketsa’ di harian Berita Buana. Tak lama setelah pembredelan Majalah Tempo dan Tabloid Detik, Ayu bersama wartawan lain sepakat mendirikan AJI (Aliansi Jurnalis Independen). Di samping itu, ia juga mendirikan Komunitas Utan Kayu yang berkutat pada bidang seni, pemikiran, dan kebebasan informasi. Tak tanggung-tanggung, ia juga menjadi aktivis perempuan. Aksi di jalanan pun ia lakoni. Setelah banyak pengalaman di media, Redaktur Jurnal Kalam ini pun mengawali debutnya sebagai sastrawan dengan merilis novel pertama bertajuk Saman.

Novel yang memenangi Sayembara Penulisan Roman Terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1998 ini berhasil menarik perhatian para kritikus dan penikmat sastra karena dianggap telah membawa angin segar bagi Sastra Indonesia.

Bagi Ayu mengarang adalah kesediaan melibatkan, meleburkan diri, dan menerima kemungkinan – kemungkinan yang tak direncanakan. Hal ini disampaikannya dalam artikelnya yang berjudul “Membantah Mantra, Membantah Subjek” (Jurnal Kalam, edisi 12, 1998).