Saman, oleh Ayu Utami

Judul Saman diambil dari nama samaran salah satu tokoh dalam cerita ini. Seorang Pastor yang kemudian mengundurkan diri usai melalui banyak peristiwa di Prabumulih, tempat kelahirannya. Saman memilih untuk terlibat bersama masyarakat petani karet, hingga akhirnya terjadi penggusuran karena keinginan penguasa untuk mengganti komoditas karet dengan sawit.

Novel yang terbit tahun 1998 secara jelas dilatarbelakangi dengan masa rezim orde baru yang dalam pergerakannya menuju reformasi, tepatnya terbit 10 hari sebelum lengsernya Soeharto. Sebagai novel yang dilatarbelakangi kondisi sosial budaya dan politik di tahun 1990-an, Saman lekat dengan isu korupsi, kronisme, dan nepotisme yang merambah.

Tidak ada kisah cinta asrama yang picisan dalam novel Saman. Semua kisah cinta dibungkus dengan intrik sensual dan seksual. Tentang bagaimana perempuan dan laki-laki mempunyai peran yang terlampau berbeda dalam struktur dan sistem sosial, tapi Saman menembus tabu dalam kisah cintanya.

Carut Marut Zaman Dalam Tiga Cerita Tokoh. 

Saman menawarkan tiga sudut pandang yang dibangun dari tiap tokoh. Pada awal cerita, kita akan dibuka dengan sudut pandang Laila Gargarin. Seorang perempuan yang secara penokohan berkarakter polos. Dalam sudut pandang Laila Gargarin kita akan dikenalkan dengan dua tokoh lain yaitu Saman, laki-laki yang dulu pernah menjadi tambatan Laila, dan Sihar, masih laki-laki tambatan hati Laila, tapi sudah memiliki istri. Kemudian diceritakan bagaimana akhirnya Saman, Laila, dan Sihar dipertemukan.

Selanjutnya pembaca akan bertemu dengan sudut pandang Saman, tokoh utama dalam cerita ini. Dalam sudut pandang Saman kita akan bertemu dengan banyak tokoh, namun tokoh-tokoh saat masa kecil Saman, saat Saman menjadi Pastor, dan saat aktivis. Alurnya maju mundur yang lekat dengan penggambaran geografis Prabumulih.

Kemudian pembaca diusik dengan sudut pandang dari Shakuntala. Melalui Shakuntala kita akan bertemu realita yang dibungkus dengan analogi dan metafora soal perempuan dalam struktur sosial. Perempuan dalam ranah privat seperti keluarga yang menjadi bentuk investasi sehingga harus dijaga, Ayu Utami menyebut fenomena itu dengan “Porselen China”. Kemudian tentang perempuan dalam relasi dengan laki-laki, kental sekali dengan sarat kebebasan untuk memilih.

Sudut pandang Yasmin menjadi penutup cerita Saman. Yasmin dikenalkan sebagai perempuan pintar yang bekerja sebagai aktivitas HAM di Amerika. Pertemuannya dengan Salman tatkala sewaktu membantunya untuk pergi kabur meninggalkan Indonesia setelah dianggap sebagai buronan. Yasmin dan Shakuntala bekerjasama untuk menciptakan identitas baru agar Saman lolos secara administrasi. Tapi, sekali lagi kita akan diusik mengenai hubungan Yasmin dan Saman.

Porsi Cerita Yang Tidak Ada.

Meskipun dibuka dengan cerita Laila dengan Sihar Situmorang, kemudian diceritakan hubungan Laila dan Saman. Kisah persahabatan Laila, Shakuntala, Cok dan Yasmin. Memang bukunya melempar banyak isu tentang penambangan oli, perkebunan karet dan kelapa sawit dan kebebasan pers. Namun, ada kisah yang benar-benar tidak selesai. 

Kisah tentang Laila, sama sekali tidak selesai.  Setelah bertemu Sihar Situmorang, dinamika kisah cinta antara perempuan muda dengan laki-laki beristri, lalu hubungan pertemanan, dan hubungan dengan Salam tidak ada porsi cerita lebih untuk Laila. Justru ditutup dengan munculnya Yasmin.

    Gadis Kretek, oleh Ratih Kumala

    Novel Romance atau Sejarah, Kok Gini Sih?

    Novel Ratih Kumala mengajak pembaca untuk mengalir dalam cerita yang menelisik memoar Soeraja dan Dasiyah. Ratih Kumala memunculkan alur cerita campuran pada tiap bab bahkan deskripsi visual kemasan rokok sebagai penanda kondisi sosial politik. (1) Klobot Trisno: Saudara tua yang datang “memeras” modal usaha Klobot Trisno. (2) Klobot Djojobojo: Merk dagang Idroes Moeriah sebelum ditangkap oleh tentara Jepang. (3) Kretek Merdeka dan Kretek Proklamasi: Bebas dari tentara Jepang, Idroes membuat “Kretek.Merdeka” dan Djagad saingannya membuat “Kretek Proklamasi” (3) Klembak Menyan Tjap Mendak: Syarat dari paraji pada saat kelahiran Dasiyah. (4) Kretek Gadis: Merek dagang Dasiyah dan ayahnya. Dan pertemuan Dasiyah dengan Soeraja (5)

    Kretek Bukit Kelapa: Dasiyah menolak lamaran dari anak pengusaha kretek Bukit Kelapa karena memilih Soeraja. (5) Kretek Arit Merah: Soeraja memantaskan diri untuk Dasiyah sebelum menikah. Muncul gejolak politik yakni penangkapan partai merah “Organisasi Terlarang” dan “Orang Dalam Daftar” (6) Djagad Raja: Berpisah dengan Dasiyah, Soeraja bermitra dengan Djagad. Namun, kelamaan Soerja malah menikah dengan Purwanti. (7) Pada tiap alurnya diceritakan juga saat Tegar, Karim dan Lebas menempuh perjalanan menuju Kudus, Kota M dan Magelang untuk mencari Dasiyah. Tidak berhasil bertemu Dasiyah, namun mereka dikejutkan bahwa Kretek Gadis Djagad Raja meniru resep dari Kretek Gadis.

    Gadis Kretek Kisah Cinta Siapa? 

    Setidaknya ada dua kisah cinta yang diceritakan. Pertama, kisah cinta Idroes Moeria dan Roemaisa. Kedua, kisah cinta Soeraja dan Dasiyah. Tapi ada pembagian porsi yang kurang pas. Perjalanan cinta, dan detail kisah cinta Idroes Moeria dan Roemaisa terasa lebih kuat, lebih hidup. Sementara kisah cinta Soeraja dan Dasiyah jadi serba tanggung. Kesan tanggung ini muncul karena plot yang terbagi antara memunculkan narasi Gadis Kretek, atau narasi cinta Soeraja dan Dasiyah. 

    Lepas dari itu, memang baik dari kedua kisah cinta tidak ada yang terkesan picisan. Hmm.. tapi gimana ya filmnya? Kalian udah nonton? 

      Padang Ilalang di Belakang Rumah, oleh NH Dini

      Sinopsis Buku 

      Trilogi kenangan oleh NH Dini berjudul ‘Sebuah Lorong di Kotaku’, ‘Padang Ilalang di Belakang Rumah’, dan ‘Langit dan Bumi Sahabat Kami’, iya, ketiga buku ini adalah pengalaman penulisnya dengan latar belakang situasi yang berbeda. Buku ‘Padang Ilalang di Belakang Rumah’ menceritakan bagaimana situasi setelah hengkangnya Belanda, dan kedatangan Bangsa Jepang yang semula dianggap saudara sekaligus penyelamat. 

      Seperti judulnya, halaman belakang rumah Dini menjadi tempat yang paling disukainya. Padang Ilalang yang menjadi tempat kedua kakak perempuan, dan dua kakak laki-lakinya menjadikanya taman bermain. Padang ilalang yang menjadi kerinduan bagi Dini, ketika dia harus tinggal di rumah Pamannya untuk bersekolah dan memangkas kebutuhan ekonomi, atau ketika Dini turut serta ke Ponorogo, dan Semarang, atau mungkin sampai saat ini.

      Dalam suasana kemiskinan Dini kecil tetap tumbuh bersama asuhan dari kedua orangtuanya. Ekonomi dan kesejahteraan keluarganya terus menurun, bersamaan dengan kesadaran Dini yang turut bertumbuh. Dini mengingat bagaimana ibunya menyesuaikan diri dengan zaman, turut menopang ekonomi keluarganya. Ibunya dengan langkah yang tertatih, secara perlahan berlapang dada. Berjualan kue, dan membatik. Dini mengingat dan menceritakan kisah ibunya dengan detail yang sangat hangat. Bermula dari penolakannya terhadap situasi zaman, dimana dulu ibunya adalah keturunan bangsawan yang terpandang, mulai berjualan kue, dan menerima pesanan kain batik dari pengusaha. 

      Detail Dari Satu Sudut Pandang

      Pembaca secara jelas hanya akan menemukan satu sudut pandang dari Dini. Beberapa kali ada percakapan dari tiap tokoh, seperti perdebatan ayah dan ibunya ketika Heratih pertama kali mempunyai kekasih, atau percakapan ayah, paman, dan ibu ketika Teguh terjepit di tengah pohon belimbing. Bahkan, ketika ibu mencoba menerima perubahan dan turut berubah melalui percakapan nya dengan Bu Rut yang menjual pakaian bekas di pinggir jln. Kranggan. 

      Satu sudut pandang dari Dini menceritakan secara detail tiap peristiwa yang direkam saat kesadaran Dini mulai bertumbuh. Melalui Sudut pandang ini juga pembaca dikenalkan dengan karakter tiap tokoh, seperti kakaknya Nugroho yang menginjak remaja, laki-laki nakal yang selalu mengganggu Dini. Ibunya yang galak tapi penuh kasih sayang juga berusaha mengikuti perubahan zaman. Malah, ada cara penggambaran tokoh yang khas ketika Dini menyadari saat Heratih kakak perempuannya akan menikah, dimana Ibunya semakin tekun bekerja, sementara ayahnya percaya dan pasrah jika ada jalan untuk menyokong uang di pernikahan Heratih.

      Dini menggambarkan dua suasana yang sangat berbeda, yang mampu membuat pembaca tenggelam. Pada bagian-bagian awal, pembaca akan menemukan cerita yang sangat hangat tentang hubungan keluarga, hubungan kakak-adik, dan hubungan saudara. Kemudian di bagian-bagian akhir suasana tegang terus bermunculan, sejak kedatangan kepala kampung, dan ayah Dini yang mengubur barang berharga di dalam rumah. 

      Secara alur, memang pembaca akan mengingat peristiwa masa lalu yang menjadi pengalaman penulis, namun plotnya akan terus maju. Ini akan tampak dengan jelas pada partisi penggambaran tubuh, dan watak dari tiap tokoh. 

      Lubang di Rumah, Pecahnya Pertempuran.  

      Setelah mendapat peringatan dari kepala kampung, ayah Dini bergerak cepat, mulai menguburkan barang-barang berharga di dalam rumah, hingga mengatur persediaan makanan. Dan, benar selama 5 hari berturut-turut pertempuran pecah, pemberontakan pada Jepang. Peristiwa ini memang tidak mengerikan seperti di kota, namun catatan kemiskinan dan efek dari pertempuran sangat jelas, setidaknya dapat ditemukan dalam novel. 

      Selama 5 hari berturut-turut, ayah Dini melarang keluarganya untuk keluar dari rumah, dan salam 5 hari itu mereka dikejutkan dengan peluru-peluru dari bayonet yang menembus dinding rumah. Suara, dan lubang di dinding menimbulkan rasa takut dan kengerian bagi mereka. Dalam cerita, bagian ini dituturkan oleh penulis begini:

      “Beberapa kali kami bahkan merasa mejadi sasaran pertempuran. Suara-suara teriakan dan seuran dalam bahasa Jepang amat ribut di kebun tangsi, terus ke belakang rumah. Disusul oleh derap sepatu yang berlarian di jalan kampung samping rumah. Lalu siutan peluru dari segala penjuru. Aku menelungkupkan diri di bawah mejad, menahan napas. Dalam sinar remang-ramg petromaks, kuterka bibir ibu tidak hentinya bergerak mengucapkan doa selamat…” (halaman 79)

      Pecahnya pertempuran menjelang pernikahan Heratih. Usai 5 hari yang penuh kengerian, Heratih berpamitan pergi ke Solo dengan kereta untuk meminta restu dari keluarga ayah. Namun, selama berhari-hari Heratih tidak kembali, hingga suara dari radio menceritakan bahwa Indonesia telah merdeka. Kemerdekaan Indonesia masih menyisakan pertanyaan bagi Heratih, dan keluarga, hingga akhirnya Ayah dan Teguh memutuskan untuk mencari Heratih ke Solo.

        Tarian Bumi, oleh Oka Rusmini.

        Sinopsis

        Novel Tarian Bumi mengupas tentang kebudayaan, adat istiadat, dan masalah sosial yang terjadi di Bali. Hubungan antara tingkatan kasta dengan kehidupan sosial masyarakat Bali berhasil dideskripsikan dengan sangat gamblang oleh Oka Rusmini. Mulai dari kesenian tari, hubungan dalam keluarga, hubungan dalam keluarga, relasi antar kasta, dan bagaimana perjuangan perempuan Bali yang ingin meningkatkan kasta mereka melalui pernikahan.

        Sesuai dengan judul novelnya, kesenian tari bagi masyarakat Bali sangat lekat dengan seorang perempuan. Awal kisah dibuka dengan keterampilan menari Luh Sekar yang berasal dari kasta sudra. Luh Sekar ingin menjadi penari utama, menjadi penari yang mampu membuat para laki-laki keranjingan dan berkeringat. Tak hanya menjadi penari utama, Luh Sekar ingin memperbaiki kesejahteraan hidupnya, satu-satunya cara yang paling kental dan lekat di Bali adalah melalui pernikahan dengan laki-laki kasta brahmana. Pernikahan menjelma dalam ruang rumah tangga, suatu ruangan sosial yang terasa intim namun bisa jadi penuh prahara, karena rumah tangga tidak lain adalah akumulasi dari kondisi sosial-budaya-politik.

        Akumulasi dari kondisi sosial-budaya-politik menerpa Luh Sekar. Perempuan yang lahir dari seorang laki-laki buronan politik, dan perempuan kasta sudra. Maka lengkaplah penderitaan Luh Sekar yang dikelilingi dengan sanksi sosial, dan cara hidup kasta sudra. Belum lagi, ibunya yang melahirkan dua anak dari laki-laki yang entah siapa. Luh Dalem kemudian menjadi representasi perempuan kasta sudra yang paling menderita mulai dari kehilangan suami, dicemooh, dikucilkan, bahkan diperkosa hingga mengalami kebutaan. 

        Selain pernikahan dan keinginan meningkatkan kesejahteraan hidup, Oka Rusmini juga menyisipkan tentang perasaan cinta sesama perempuan. Luh Kenten menyukai Luh Sekar yang adalah sahabatnya, namun dengan susah payah Luh Kenten menahan perasaannya. Bukan menahan, tapi faktor tradisi (sosial-budaya) membuatnya harus menahan perasaannya. Melalui tokoh Luh Kenten, Oka Rusmini menggambarkan bagaimana laki-laki Bali hidup. Laki-laki Bali adalah manusia yang hanya bisa menakar dan mengukur kecantikan perempuan, mengamati tubuh perempuan tanpa rasa tanggungjawab, dan moral. 

        Laki-laki seperti itulah yang dinikahi oleh Luh Sekar, Ida Bagus Ngurah Pidada, laki-laki dari kasta brahmana. Suami Luh Sekar ternyata bukan laki-laki yang bertanggung jawab karena selama menikah, Ida Bagus Ngurah Pidada bisa pergi berbulan-bulan, tanpa kejelasan apa yang dia lakukan. Bahkan akhirnya ketahuan mempunyai perempuan diluar pernikahan. Perempuan dari kasta sudra lain. Selain itu, karena menikah dengan laki-laki dari kasta brahmana, Luh Sekar harus meninggalkan kehidupannya sebagai perempuan kasta sudra, berarti meninggalkan keluarganya. Ambisi Luh Sekar belum juga habis, dia menuntut anaknya Ida Ayu Telaga Pidada untuk menikah dengan laki-laki dari kelas yang sama.

        Representasi: Empat Tokoh, dan Empat Sudut Pandang.

        Ada banyak tokoh yang disebutkan dalam Tarian Bumi, Ida Bagus Tugur, Ida Ayu Sagra Pidada, Ida Bagus Ngurah Pidada, Luh Dalem, Luh Sekar, Luh Kenten, Wayan Sasmitha, dan Ida Ayu Telaga Pidada. Namun, semuanya merupakan sudut pandang perempuan, hanya sedikit sudut pandang laki-laki yang muncul.

        Empat tokoh yang diberikan banyak ruang oleh Oka Rusmini adalah Luh Sekar, Luh Dalem, Ida Ayu Telaga, dan Luh Kenten. Keempat tokoh tersebut mengalirkan kisah di dalam Tarian Bumi. Sudut pandang yang diberikan juga terasa sangat personal, seperti bagaimana Luh Sekar menilai Wayan Sasmitha, atau Luh Kenten yang menilai para lelaki di pasar. Keempat sudut pandang ini seperti suatu akumulasi. Mulai dari Luh Dalem yang menikah dengan laki-laki sudra, namun pernikahannya berantakan karena laki-laki yang dinikahi menjadi buronan politik. Lalu Luh Sekar, anak dari Luh Dalem yang merasa menderita karena berasal dari kasta sudra, dan belum lagi sanksi sosial karena ayahnya seorang buronan politik. Kemudian Luh Kenten yang menyukai Luh Sekar, dan mengutuk, meludahi para laki-laki. Hingga Ida Ayu Telaga Pidada yang dilarang mencintai laki-laki dari kasta yang lebih rendah. 

        Masing-masing dari empat tokoh secara gamblang juga merepresentasikan perempuan di Bali. Perempuan yang tidak menempatkan ambisi dalam pernikahan; perempuan yang menempatkan ambisi dalam hidup hingga menemukan pernikahan sebagai suatu cara; perempuan yang tidak berambisi namun menyukai perempuan; perempuan yang mempertahankan kelanggengan stratanya; dan perempuan yang tidak mempermasalahkan ambisi, namun hasrat cintanya. Karakter ini tidak hanya mengalirkan kisah, namun menggambarkan situasi bagaimana dimana suatu budaya-sosial-politik secara perlahan membelenggu perempuan di Bali. 

        Membaca Tarian Bumi, kita (sebagai pembaca) diajak untuk mundur melalui cerita-cerita flashback dari masing-masing tokoh. Sebenarnya alur cerita dalam novel ini terkategori campuran, namun dominan alur mundurnya. Jika dilihat dari generasinya maka seperti mulai dari generasi kedua, generasi pertama, lalu generasi ketiga. Teknis penulisan yang brilian untuk menengok perkembangan budaya-sosial-politik yang berpengaruh oleh perempuan, dan dipengaruhi oleh perempuan. 

        Budaya, Pernikahan, dan Perempuan Dari Tiga Generasi

        Membaca Tarian Bumi seperti membaca kondisi kultural di Bali, lengkap dengan cara hidup yang kadang terlewatkan begitu saja. Oka Rusmini berhasil membuat karya yang representatif tentang budaya dan perempuan di Bali. Gaya dan teknis penulisan yang jenius oleh Ayu Utami. 

        Melalui keterwakilan tiga generasi dimana Luh Dalem sebagai generasi pertama, Luh Sekar sebagai generasi kedua, dan Ida Ayu Telaga Pidada sebagai generasi ketiga. Setiap generasi tidak lepas dari bagaimana pernikahan menjadi cara untuk mendapat kesejahteraan hidup, dan bagaimana pernikahan juga sangat kental dengan adat istiadat. 

        Misalnya, Luh Sekar yang berasal dari kasta sudra menikah dengan laki-laki kasta brahmana berarti meninggalkan kehidupan, keluarga dan nama masa lalunya. Perubahan nama menjadi Jero Kenanga menandakan hal tersebut. Kemudian, bagaimana Ida Ayu Telaga Pidada yang menikah dengan laki-laki dari kasta sudra harus melakukan upacara Patiwangi. Melakukan upacara ini berarti meninggalkan semua ke-brahmanaan-nya. Artinya, Oka Rusmini tidak membagi begitu saja antara pernikahan dan adat istiadat, karena di Bali ini adalah suatu yang tunggal. 

          Pulang, oleh Leila S. Chudori.

          Sinopsis

          Novel Pulang berlatar belakang pada April 1968, setelah peristiwa tiga tahun sebelumnya yang membumihanguskan PKI, termasuk semua pihak yang terlibat  dalam aktivitas PKI. Kantor berita turut menjadi sasaran karena sering menyinggung sentimen politik, termasuk profesi wartawan. Dari sini cerita novel Pulang berawal. 

          Dimas Suryo, Nugroho Dewatoro, Tjai Sin Soe, dan Risjaf adalah empat orang yang bekerja di Kantor Berita Nusantara. Mereka terpaksa pergi ke negara lain sebagai buronan politik. Kepergian mereka ke luar negeri, awalnya bukan karena buronan politik, namun memenuhi undangan konferensi para wartawan. Berpamitan dengan biasa seperti akan pulang lagi. Demarkasi antara pihak yang pro PKI atau kontra PKI menjadi tidak jelas, karena lebih jelas mereka dianggap bersinggungan. 

          Mereka berempat kembali bertemu di Paris. Setelah sebelumnya bulan Mei di tahun yang sama gerakan mahasiswa berkecamuk karena universitas ditutup secara paksa di Paris. Masing-masing mencari pekerjaan selama tinggal di Paris untuk bertahan hidup. Tidak lagi dianggap sebagai warga Indonesia, namun belum juga menjadi bagian dari Paris. Hingga akhirnya menetap, berkeluarga, menjadi bagian dari Paris dan mendirikan Restoran Tanah Air, empat sekawan tadi menjadi empat pilar Tanah Air. 

          Berada di Paris tidak kemudian membuat mereka tenang, terutama Dimas Suryo, saling memberi kabar dengan kawan, dan kerabatnya di Indonesia melalui surat, dan telepon. Dimas Suryo merasa sangat rindu dengan Indonesia. Merindukan aroma tanah usai hujan, aroma yang tidak asing bagi Dimas, dan juga bayangan masa lalu tentang Surti Anandari. Surti Anandari menjadi cerita yang terus disimpan oleh Dimas sendiri sampai Vivienne mengetahui hal itu. Bagi Vivienne memiliki Dimas Suryo, bukan berarti memiliki Dimas seluruhnya. 

          Vivienne adalah perempuan Paris, pertemuannya dengan Dimas bersamaan dengan berkecamuknya gerakan mahasiswa. Cinta pada pandangan pertama, keinginan untuk bersama, menemani Dimas Suryo, hingga akhirnya mereka berdua menikah, mempunyai seorang anak perempuan bernama Lintang Utara Suryo. 

          Lintang Utara Suryo adalah perempuan yang akhirnya menemukan, dan membedah sejarah Indonesia di tahun 1965 sebagai tugas akhir akademiknya. Membedah sejarah di tahun 1965 sama saja dengan membedah sejarah ayahnya (Dimas Suryo), hubungannya dengan Surti Anandari. Mei 1998 Lintang tiba di Indonesia, kebutuhannya untuk tugas akhir banyak dibantu oleh Alam, Bimo, Mita, dan Gilang yang bergerak mendokumentasikan para korban tahun 1965. 

          Tujuh Sudut Pandang Memperkaya Kisah Pulang. 

          Novel Pulang sebenarnya berisi tujuh sudut pandang para tokoh. Cerita tiap tokoh menjadi narator yang saling melengkapi dan menghubungkan. Dikemas dengan gaya menceritakan diri sendiri dan tokoh lain secara personal. Kita (sebagai pembaca) bisa menemukan karakter tokoh Prakosa dan Alam dari mata Bimo, atau karakter tokoh Hananto Prawiro dari mata Dimas Suryo.

          Dari tujuh sudut pandang para tokoh ada dua tokoh dominan yang mengisi cerita di novel Pulang, Dimas Suryo dan Lintang Utara. Mereka seperti perwakilan dari dua generasi yang berbeda. Dimas Suryo menjadi generasi pertama yang bisa memberikan detail peristiwa di tahun 1965 melalui surat-surat yang saling dikirimkan, atau penilaian personal Dimas pada tokoh lain. Kemudian, Lintang Utara menjadi generasi kedua dengan latar belakang di tahun 1980an sampai 1998 ketika menginjakan kaki di Indonesia. Melalui sudut pandang Lintang Utara, kita bisa menemukan bagaimana cerita lengkap generasi kedua, yang mana adalah anak-anak dari Hananto Prawiro, dan Surti atau anak-anak dari Aji Suryo. 

          Menggunakan alur cerita campuran dengan menyajikan sudut pandang tokoh adalah ide yang brilian. Semuanya saling mengisi, seperti bagian cerita dimana Vivienne dan Dimas yang sudah cerai menjadi gamblang dalam sudut pandang Lintang, atau cerita mengenai Hananto Prawiro dari sudut pandang Dimas Suryo sebagai satu-satunya tokoh yang menganut ideologi komunisme. 

          Rentetan Peristiwa September 1965, dan Romansa Asmara.

          Setidaknya ada tiga potongan sejarah yang hadir sebagai latar belakang novel Pulang. Pertama adalah sejarah Indonesia pada bulan September 1965, termasuk rentetan peristiwa yang berpengaruh hingga tahun 1998, dan meletusnya demonstrasi mahasiswa pada Mei 1998. Selain Indonesia, potongan sejarah mengenai Perancis pada Mei 1968 ketika gerakan mahasiswa berkecamuk, dan rentetan peristiwa lainnya. 

          Sejarah September 1965 di Indonesia menjadi konflik pertama yang membuat para tokoh menjadi eksil di negara lain, sama persis dengan kenyataan prahara. Efeknya beruntun sampai pada tahun-tahun berikutnya, bermula dari penggeledahan, penangkapan, interogasi dan penyiksaan pada keluarga eksil di Indonesia. Hingga sampai pada generasi berikutnya yang dianggap sebagai anak pengkhianat, belum lagi sanksi sosial, dan sulitnya bertahan hidup, tidak hanya soal pekerjaan saja. Bagian ini diceritakan dengan gamblang, dan tajam oleh Leila S. Chudori, ada pergolakan moral dan tentu saja mental, seperti kisah Rama, anak dari Aji Suryo, adik Dimas Suryo yang menutupi sejarah keluarganya. 

          Sejarah keluarganya dianggapnya aib bagi Rama, baginya Dimas Suryo membawa nasib buruk dengan terlibat atau tidak dalam aktivitas PKI. Menganggap sejarah keluarganya sebagai aib, Rama tidak segan untuk berbohong, untuk tujuan bertahan hidup, mendapat pekerjaan. Namun, konflik keluarga Aji Suryo memuncak ketika Rama berniat untuk menikah dengan Rininta, anak dari atasannya di kantor konstruksi tempat Rama bekerja. Rama ingin mengajak keluarganya untuk bertemu Rininta, tapi tidak untuk mengenalkan aib keluarganya. Sementara Aji Suryo, menolak karena kebohongan itu sudah keterlaluan, sampai pada situasi ingin menikah, situasi rumah tangga (halaman 330 – 363) 

          Pergolakan moral dan mental terasa intens dengan pengalaman interogasi Surti. Pengalaman interogasi yang menyakitkan (halaman 366 – 390) karena para interogator mengancam Surti, membuka kancing blusnya, bahkan menggunakan ketiga anak Surti sebagai ‘senjata’ membahas soal Kenanga yang masuk usia pubertas di tempat mereka ditahan adalah hal paling buruk bagi seorang ibu. 

          Novel Pulang mengajak pembaca untuk memulangkan ingatannya. Sejarah kelam dengan situasi serba ketakutan yang adalah memoar dari sejarah Indonesia. Tidak menggurui pembaca mengenai peristiwa September 1965, kondisi politik, namun tidak juga memberikan kritik yang gahar atau menunjukan keberpihakan. Sejarah dalam novel ini menjadi kerangka cerita, dan perkenalan bagi para pembaca.

          Dengan tebal buku hampir 500 halaman, siapa yang bisa membaca tanpa bumbu asmara di ceritanya? tentu saja ada. Dengan gaya realisme novel Pulang menyuguhkan hubungan asmara di antara para tokoh. Cerita cinta Dimas Suryo dengan Surti Anandari yang muncul orang ketiga Hananto, atau kisah cinta Dimas Suryo dengan Vivienne yang muncul pada pandangan pertama.

          Novel yang terbilang lengkap dan kaya bagi para pembaca, dengan sejarah, dan politik yang kental. Belum lagi unsur asmara dengan gaya realis yang disingkap dengan tema cinta pandangan pertama. Atau kutipan puisi dari sastrawan seperti Chairil Anwar, James Joyce, Lord Byron, Pramoedya Ananta Toer, TS Eliot, William Shakespeare, WS Rendra, dan Walt Whitman. Buat kalian yang memilih buku ini untuk dibaca .. selamat memulangkan ingatan kalian pada peristiwa sejarah Indonesia.