Ratih Kumala, Menulis Cerpen

Novelis Ratih Kumala terlahir dari keturunan produsen rokok kretek yang cukup terkenal di Muntilan, Jawa Tengah, puluhan tahun silam. Jati diri itu menjadi titik berangkat Ratih meniti jalan kepenulisan.

Bukan perkara gampang mengubah dan menceritakan kembali ingatan masa kecilnya ke dalam sebuah karya sastra, apalagi novel. Saat awal memulai karier kepenulisannya di bidang sastra, Ratih juga pernah mencoba membuat versi cerita pendeknya, tetapi gagal.

Belakangan dia baru tahu, ternyata butuh pengalaman bertahun-tahun untuk bisa menuangkan kisah-kisah yang didengar di masa kecilnya itu ke dalam sebuah novel. Novel Gadis Kretek adalah novel keempat Ratih setelah bertahun-tahun berkarya dan meraih prestasi.

Selain sebagai penulis novel dan cerita pendek, Ratih juga merupakan penulis skenario dan pernah bergabung dalam tim penulisan program Jalan Sesama yang diadaptasi dari Sesame Street. Ia juga bekerja sebagai editor naskah drama di stasiun televisi swasta.

Hingga saat ini, Ratih Kumala telah menulis tujuh buku fiksi, tiga naskah film layar lebar, dan ratusan judul drama televisi. Keenam judul bukunya yang telah terbit yaitu Tabula Rasa (2004), Genesis (2005), Larutan Senja (2006), Kronik Betawi (2009), Gadis Kretek (2012), Bastian dan Jamur Ajaib (2015), dan Wesel Pos (2019).

    Ayu Utami, Membantah Mantra, Membantah SubjekAyu Utami.

    Dunia kepenulisan bukan hal yang akrab bagi Ayu Utami. Karirnya sebagai pengaran dimulai ketiak Ayu mengirimkan cerpen humor dalam lomba yang diadakan oleh majalah Humor sekitar tahun 1989, dan memperoleh juara harapan. Kemenangan tersebut menyeret Ayu Uami menjadi wartawan paruh waktu untuk Humor. Masih berlanjut. Karena kondisi geografis yang relatif dekat dengan Majalah Matra, Ayu Utami juga berelasi dekat, kemudian menjadi wartawan di majalah khusus trend pira.

    Ayu meniti karir menjadi wartawan di Majalah Matra, Forum Keadilan, hingga Majalah D&R. Saat usianya 23 tahun, Ayu aktif mengisi kolom mingguan ‘Sketsa’ di harian Berita Buana. Tak lama setelah pembredelan Majalah Tempo dan Tabloid Detik, Ayu bersama wartawan lain sepakat mendirikan AJI (Aliansi Jurnalis Independen). Di samping itu, ia juga mendirikan Komunitas Utan Kayu yang berkutat pada bidang seni, pemikiran, dan kebebasan informasi. Tak tanggung-tanggung, ia juga menjadi aktivis perempuan. Aksi di jalanan pun ia lakoni. Setelah banyak pengalaman di media, Redaktur Jurnal Kalam ini pun mengawali debutnya sebagai sastrawan dengan merilis novel pertama bertajuk Saman.

    Novel yang memenangi Sayembara Penulisan Roman Terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1998 ini berhasil menarik perhatian para kritikus dan penikmat sastra karena dianggap telah membawa angin segar bagi Sastra Indonesia.

    Bagi Ayu mengarang adalah kesediaan melibatkan, meleburkan diri, dan menerima kemungkinan – kemungkinan yang tak direncanakan. Hal ini disampaikannya dalam artikelnya yang berjudul “Membantah Mantra, Membantah Subjek” (Jurnal Kalam, edisi 12, 1998).

      Saman, oleh Ayu Utami

      Judul Saman diambil dari nama samaran salah satu tokoh dalam cerita ini. Seorang Pastor yang kemudian mengundurkan diri usai melalui banyak peristiwa di Prabumulih, tempat kelahirannya. Saman memilih untuk terlibat bersama masyarakat petani karet, hingga akhirnya terjadi penggusuran karena keinginan penguasa untuk mengganti komoditas karet dengan sawit.

      Novel yang terbit tahun 1998 secara jelas dilatarbelakangi dengan masa rezim orde baru yang dalam pergerakannya menuju reformasi, tepatnya terbit 10 hari sebelum lengsernya Soeharto. Sebagai novel yang dilatarbelakangi kondisi sosial budaya dan politik di tahun 1990-an, Saman lekat dengan isu korupsi, kronisme, dan nepotisme yang merambah.

      Tidak ada kisah cinta asrama yang picisan dalam novel Saman. Semua kisah cinta dibungkus dengan intrik sensual dan seksual. Tentang bagaimana perempuan dan laki-laki mempunyai peran yang terlampau berbeda dalam struktur dan sistem sosial, tapi Saman menembus tabu dalam kisah cintanya.

      Carut Marut Zaman Dalam Tiga Cerita Tokoh. 

      Saman menawarkan tiga sudut pandang yang dibangun dari tiap tokoh. Pada awal cerita, kita akan dibuka dengan sudut pandang Laila Gargarin. Seorang perempuan yang secara penokohan berkarakter polos. Dalam sudut pandang Laila Gargarin kita akan dikenalkan dengan dua tokoh lain yaitu Saman, laki-laki yang dulu pernah menjadi tambatan Laila, dan Sihar, masih laki-laki tambatan hati Laila, tapi sudah memiliki istri. Kemudian diceritakan bagaimana akhirnya Saman, Laila, dan Sihar dipertemukan.

      Selanjutnya pembaca akan bertemu dengan sudut pandang Saman, tokoh utama dalam cerita ini. Dalam sudut pandang Saman kita akan bertemu dengan banyak tokoh, namun tokoh-tokoh saat masa kecil Saman, saat Saman menjadi Pastor, dan saat aktivis. Alurnya maju mundur yang lekat dengan penggambaran geografis Prabumulih.

      Kemudian pembaca diusik dengan sudut pandang dari Shakuntala. Melalui Shakuntala kita akan bertemu realita yang dibungkus dengan analogi dan metafora soal perempuan dalam struktur sosial. Perempuan dalam ranah privat seperti keluarga yang menjadi bentuk investasi sehingga harus dijaga, Ayu Utami menyebut fenomena itu dengan “Porselen China”. Kemudian tentang perempuan dalam relasi dengan laki-laki, kental sekali dengan sarat kebebasan untuk memilih.

      Sudut pandang Yasmin menjadi penutup cerita Saman. Yasmin dikenalkan sebagai perempuan pintar yang bekerja sebagai aktivitas HAM di Amerika. Pertemuannya dengan Salman tatkala sewaktu membantunya untuk pergi kabur meninggalkan Indonesia setelah dianggap sebagai buronan. Yasmin dan Shakuntala bekerjasama untuk menciptakan identitas baru agar Saman lolos secara administrasi. Tapi, sekali lagi kita akan diusik mengenai hubungan Yasmin dan Saman.

      Porsi Cerita Yang Tidak Ada.

      Meskipun dibuka dengan cerita Laila dengan Sihar Situmorang, kemudian diceritakan hubungan Laila dan Saman. Kisah persahabatan Laila, Shakuntala, Cok dan Yasmin. Memang bukunya melempar banyak isu tentang penambangan oli, perkebunan karet dan kelapa sawit dan kebebasan pers. Namun, ada kisah yang benar-benar tidak selesai. 

      Kisah tentang Laila, sama sekali tidak selesai.  Setelah bertemu Sihar Situmorang, dinamika kisah cinta antara perempuan muda dengan laki-laki beristri, lalu hubungan pertemanan, dan hubungan dengan Salam tidak ada porsi cerita lebih untuk Laila. Justru ditutup dengan munculnya Yasmin.

        Gadis Kretek, oleh Ratih Kumala

        Novel Romance atau Sejarah, Kok Gini Sih?

        Novel Ratih Kumala mengajak pembaca untuk mengalir dalam cerita yang menelisik memoar Soeraja dan Dasiyah. Ratih Kumala memunculkan alur cerita campuran pada tiap bab bahkan deskripsi visual kemasan rokok sebagai penanda kondisi sosial politik. (1) Klobot Trisno: Saudara tua yang datang “memeras” modal usaha Klobot Trisno. (2) Klobot Djojobojo: Merk dagang Idroes Moeriah sebelum ditangkap oleh tentara Jepang. (3) Kretek Merdeka dan Kretek Proklamasi: Bebas dari tentara Jepang, Idroes membuat “Kretek.Merdeka” dan Djagad saingannya membuat “Kretek Proklamasi” (3) Klembak Menyan Tjap Mendak: Syarat dari paraji pada saat kelahiran Dasiyah. (4) Kretek Gadis: Merek dagang Dasiyah dan ayahnya. Dan pertemuan Dasiyah dengan Soeraja (5)

        Kretek Bukit Kelapa: Dasiyah menolak lamaran dari anak pengusaha kretek Bukit Kelapa karena memilih Soeraja. (5) Kretek Arit Merah: Soeraja memantaskan diri untuk Dasiyah sebelum menikah. Muncul gejolak politik yakni penangkapan partai merah “Organisasi Terlarang” dan “Orang Dalam Daftar” (6) Djagad Raja: Berpisah dengan Dasiyah, Soeraja bermitra dengan Djagad. Namun, kelamaan Soerja malah menikah dengan Purwanti. (7) Pada tiap alurnya diceritakan juga saat Tegar, Karim dan Lebas menempuh perjalanan menuju Kudus, Kota M dan Magelang untuk mencari Dasiyah. Tidak berhasil bertemu Dasiyah, namun mereka dikejutkan bahwa Kretek Gadis Djagad Raja meniru resep dari Kretek Gadis.

        Gadis Kretek Kisah Cinta Siapa? 

        Setidaknya ada dua kisah cinta yang diceritakan. Pertama, kisah cinta Idroes Moeria dan Roemaisa. Kedua, kisah cinta Soeraja dan Dasiyah. Tapi ada pembagian porsi yang kurang pas. Perjalanan cinta, dan detail kisah cinta Idroes Moeria dan Roemaisa terasa lebih kuat, lebih hidup. Sementara kisah cinta Soeraja dan Dasiyah jadi serba tanggung. Kesan tanggung ini muncul karena plot yang terbagi antara memunculkan narasi Gadis Kretek, atau narasi cinta Soeraja dan Dasiyah. 

        Lepas dari itu, memang baik dari kedua kisah cinta tidak ada yang terkesan picisan. Hmm.. tapi gimana ya filmnya? Kalian udah nonton? 

          Padang Ilalang di Belakang Rumah, oleh NH Dini

          Sinopsis Buku 

          Trilogi kenangan oleh NH Dini berjudul ‘Sebuah Lorong di Kotaku’, ‘Padang Ilalang di Belakang Rumah’, dan ‘Langit dan Bumi Sahabat Kami’, iya, ketiga buku ini adalah pengalaman penulisnya dengan latar belakang situasi yang berbeda. Buku ‘Padang Ilalang di Belakang Rumah’ menceritakan bagaimana situasi setelah hengkangnya Belanda, dan kedatangan Bangsa Jepang yang semula dianggap saudara sekaligus penyelamat. 

          Seperti judulnya, halaman belakang rumah Dini menjadi tempat yang paling disukainya. Padang Ilalang yang menjadi tempat kedua kakak perempuan, dan dua kakak laki-lakinya menjadikanya taman bermain. Padang ilalang yang menjadi kerinduan bagi Dini, ketika dia harus tinggal di rumah Pamannya untuk bersekolah dan memangkas kebutuhan ekonomi, atau ketika Dini turut serta ke Ponorogo, dan Semarang, atau mungkin sampai saat ini.

          Dalam suasana kemiskinan Dini kecil tetap tumbuh bersama asuhan dari kedua orangtuanya. Ekonomi dan kesejahteraan keluarganya terus menurun, bersamaan dengan kesadaran Dini yang turut bertumbuh. Dini mengingat bagaimana ibunya menyesuaikan diri dengan zaman, turut menopang ekonomi keluarganya. Ibunya dengan langkah yang tertatih, secara perlahan berlapang dada. Berjualan kue, dan membatik. Dini mengingat dan menceritakan kisah ibunya dengan detail yang sangat hangat. Bermula dari penolakannya terhadap situasi zaman, dimana dulu ibunya adalah keturunan bangsawan yang terpandang, mulai berjualan kue, dan menerima pesanan kain batik dari pengusaha. 

          Detail Dari Satu Sudut Pandang

          Pembaca secara jelas hanya akan menemukan satu sudut pandang dari Dini. Beberapa kali ada percakapan dari tiap tokoh, seperti perdebatan ayah dan ibunya ketika Heratih pertama kali mempunyai kekasih, atau percakapan ayah, paman, dan ibu ketika Teguh terjepit di tengah pohon belimbing. Bahkan, ketika ibu mencoba menerima perubahan dan turut berubah melalui percakapan nya dengan Bu Rut yang menjual pakaian bekas di pinggir jln. Kranggan. 

          Satu sudut pandang dari Dini menceritakan secara detail tiap peristiwa yang direkam saat kesadaran Dini mulai bertumbuh. Melalui Sudut pandang ini juga pembaca dikenalkan dengan karakter tiap tokoh, seperti kakaknya Nugroho yang menginjak remaja, laki-laki nakal yang selalu mengganggu Dini. Ibunya yang galak tapi penuh kasih sayang juga berusaha mengikuti perubahan zaman. Malah, ada cara penggambaran tokoh yang khas ketika Dini menyadari saat Heratih kakak perempuannya akan menikah, dimana Ibunya semakin tekun bekerja, sementara ayahnya percaya dan pasrah jika ada jalan untuk menyokong uang di pernikahan Heratih.

          Dini menggambarkan dua suasana yang sangat berbeda, yang mampu membuat pembaca tenggelam. Pada bagian-bagian awal, pembaca akan menemukan cerita yang sangat hangat tentang hubungan keluarga, hubungan kakak-adik, dan hubungan saudara. Kemudian di bagian-bagian akhir suasana tegang terus bermunculan, sejak kedatangan kepala kampung, dan ayah Dini yang mengubur barang berharga di dalam rumah. 

          Secara alur, memang pembaca akan mengingat peristiwa masa lalu yang menjadi pengalaman penulis, namun plotnya akan terus maju. Ini akan tampak dengan jelas pada partisi penggambaran tubuh, dan watak dari tiap tokoh. 

          Lubang di Rumah, Pecahnya Pertempuran.  

          Setelah mendapat peringatan dari kepala kampung, ayah Dini bergerak cepat, mulai menguburkan barang-barang berharga di dalam rumah, hingga mengatur persediaan makanan. Dan, benar selama 5 hari berturut-turut pertempuran pecah, pemberontakan pada Jepang. Peristiwa ini memang tidak mengerikan seperti di kota, namun catatan kemiskinan dan efek dari pertempuran sangat jelas, setidaknya dapat ditemukan dalam novel. 

          Selama 5 hari berturut-turut, ayah Dini melarang keluarganya untuk keluar dari rumah, dan salam 5 hari itu mereka dikejutkan dengan peluru-peluru dari bayonet yang menembus dinding rumah. Suara, dan lubang di dinding menimbulkan rasa takut dan kengerian bagi mereka. Dalam cerita, bagian ini dituturkan oleh penulis begini:

          “Beberapa kali kami bahkan merasa mejadi sasaran pertempuran. Suara-suara teriakan dan seuran dalam bahasa Jepang amat ribut di kebun tangsi, terus ke belakang rumah. Disusul oleh derap sepatu yang berlarian di jalan kampung samping rumah. Lalu siutan peluru dari segala penjuru. Aku menelungkupkan diri di bawah mejad, menahan napas. Dalam sinar remang-ramg petromaks, kuterka bibir ibu tidak hentinya bergerak mengucapkan doa selamat…” (halaman 79)

          Pecahnya pertempuran menjelang pernikahan Heratih. Usai 5 hari yang penuh kengerian, Heratih berpamitan pergi ke Solo dengan kereta untuk meminta restu dari keluarga ayah. Namun, selama berhari-hari Heratih tidak kembali, hingga suara dari radio menceritakan bahwa Indonesia telah merdeka. Kemerdekaan Indonesia masih menyisakan pertanyaan bagi Heratih, dan keluarga, hingga akhirnya Ayah dan Teguh memutuskan untuk mencari Heratih ke Solo.

            Nh. Dini: Trilogi Kenangan

            Nurhayati Sri Hardini Nukatin, lahir di Semarang, 29 Februari 1936. Ternyata Nh. Dini memang seorang putri dari ayah yang dulunya adalah pegawai kereta api. Dalam trilogi novelnya, pembaca akan akrab dengan sosok ayahnya. Diceritakan juga baha Nh. Dini sangat dekat dengan ayahnya dan ayahnya melihat bakat Nh. Dini sejak kecil. 

            Sebagai seorang sastrawan, bakat kepengarangannya sudah dibina sejak kecil. Dorongan ini muncul berkat ayahnya yang menyediakan bahan bacaan. Saat berusia 9 tahun Nh. Dini menulis karangan berjudul “Merdeka dan Merah Putih”. Karangannya itu membuat ayahnya harus berurusan dengan Belanda, karena dinilai provokatif.

            Tapi siapa yang menyangka, kalau ternyata Nh. Dini justru bercita-cita jadi sopir lokomotif atau masinis. Namun, takdir berkata lain, Nh. Dini malah mendapat award  SEA Write Award di bidang sastra dari Pemerintah Thailand di tahun 2003. 

              Atomic Habits: Skema Ringkas Yang Pas.

              Buku Atomic Habits karya James Clear menjadi salah satu buku motivasi yang mencetak rekor penjualan terbaik versi New York Times. Sejak terbit pada 2018 buku Atomic Habits telah terjual lebih dari 5 juta eksemplar di seluruh dunia. 

              “Tapi apa itu atomic habits?”

              Atomic habits merujuk pada kebiasaan kecil yang terkesan remeh, kebiasaan yang seringkali tidak diperhitungkan tapi sudah tersistem lalu tanpa disadari dilakukan secara berulang. Buku ini tepat untuk kalian yang ingin memperbaiki beberapa habits kecil tersebut, karena kajian yang dilakukan oleh Clear terbilang terstruktur untuk membantu. Mulai dari mindset, imajinasi, dan sikap.

              James Clear menjelaskan bahwa kebiasaan buruk yang terus berulang terjadi bukan karena seseorang tidak ingin berubah, melainkan karena sistem perubahan yang salah. Ketika sistem perubahan dilakukan secara benar, maka individu dapat memperoleh ke tingkat produktivitas yang baru. Memanfaatkan berbagai disiplin bidang ilmu, racikan James Clear secara praktis menyederhanakan permasalahan yang kompleks.

              “Gaya-gaya sistemik gini nih yang nggak jarang susah implementasinya.”

              “Kebayang gimana kebiasaan yang sudah terakumulasi tahunan, terus diubah gitu, rasanya butuh cara yang pas untuk tiap orang.”

              Setelah membaca buku Atomic Habits, Yasatri juga menggabungkan dengan beberapa akun channel YouTube yang membahas buku ini. Bukan untuk konten promosi channel atau malah jualan buku, niatnya untuk memberikan skema ringkas yang pas. 

              Terdapat tiga kaidah utama yang perlu diketahui sebelum merubah kebiasaan remeh. (a) Perubahan perilaku harus terlihat dan jelas. Dua petunjuk paling umum adalah waktu dan lokasi. Rumus niat implementasi (Kebiasaan Baru) pada (Waktu) di (Lokasi). Kemudian pasangkan kebiasaan lama secara berurutan dengan kebiasaan baru, jadi setelah melakukan B (kebiasaan lama) maka lakukan A (kebiasaan baru). (b) Perubahan perilaku haruslah menarik. Kebiasaan adalah umpan balik oleh dopamin, maka caranya adalah memasangkan aksi yang diinginkan dengan aksi yang dibutuhkan. (c) Perubahan perilaku haruslah mudah, maka lakukan berulang dan jalankan, abaikan rencana detail yang memusingkan. Fokus pada action, bukan in motion karena pembentukan kebiasaan adalah melalui perulangan. Tiga kaidah ini sejalan dengan artikel yang berjudul Atomic Habits: Metode Transformasi Diri oleh Jurnal Literaksi: Jurnal Manajemen Pendidikan1. Singkatnya, karena kebiasaan sudah terakumulasi dan berulang, untuk mengubahnya membutuhkan cara yang menarik dan mudah dilakukan dengan stimulus waktu dan lokasi. 

              Melansir dari channel YouTube One Percent Better2 kebiasaan baru yang mudah adalah dengan memberikan cue yang jelas di sekitarmu. Cue yang jelas menjadi stimulus untuk melakukan kebiasaan baru, misalnya dengan mengatur komposisi buku sehingga mudah menemukan buku yang ingin kamu baca. Terus kalau digabungkan dengan tiga kaidah tadi, tambahkan waktu dan lokasi. Setelah mengatur komposisi buku, tentukan jam dan lokasi dimana kamu ingin membaca, carilah tempat yang nyaman untuk membaca, bisa dengan memutar lagu, atau membakar dupa, atau setelah mandi. Sesuaikan dengan kebiasaan yang sudah dilakukan sebelumnya. 

              Terakhir, melansir dari channel YouTube milik Agus Leo Halim yang bertajuk kultum (kuliah tujuh menit)3, gunakan pola pikir 1% rules yang artinya fokus pada perubahan kecil secara konsisten, hilangkan pola pikir untuk mengubah kebiasaan secara drastis. Dan lupakan goals, karena goals adalah output/outcome sementara kebiasaan adalah sistem dalam keseharian, fokus untuk membangun dan mengembangkan sistem, goals hanya akan membuat tergesa-gesa.

              Terkesan mudah dan praktis ya, memang akhirnya masalah kompleks soal kebiasaan dibuat sederhana oleh James Clear, karena tujuannya adalah merubah kebiasaan. Selamat bereksperimen dan selamat mencoba…

              1. Mengutip https://literaksi.org/index.php/jmp/article/view/274 ↩︎
              2. Channel Youtube: https://www.youtube.com/watch?v=a2YEiDTLjvg ↩︎
              3. Channel Youtube: https://www.youtube.com/watch?v=a2YEiDTLjvg ↩︎

                Oka Rusmini: Cerita Fiksi Merekam Perubahan

                Oka Rusmini perempuan Bali yang lahir di Jakarta tanggal 11 Juli 1967. Perempuan yang produktif menulis puisi, cerpen, novel, drama, dan cerita anak. Latar belakang pendidikan SD dan SMP dijalani di daerah Cijantung, Jakarta. Kemudian, menempuh pendidikan SMA di Bali, dan menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Sastra, Universitas Udayana1

                Sejak lulus kuliah, Oka Rusmini secara konsisten mengangkat isu perempuan dengan latar belakang sosial budaya di Bali, salah satu novelnya adalah Tarian Bumi. Sosok perempuan dalam karyanya berdasarkan realitas yang terjadi pada perempuan Bali. Melansir dari wawancara antara Oka Rusmini dengan Liputan6 “Karya saya adalah potret dokumentasi perubahan-perubahan yang terjadi di sekeliling.”2

                Pengalamannya sebagai wartawan memuatnya bertemu dengan perempuan-perempuan hebat dengan berbagai sudut pandang. Cerita-cerita dalam pertemuan itu yang Oka Rusmini endapkan menjadi novelnya. Mengangkat isu kompleks soal tubuh, budaya, kelas, dan agama yang acap dialami perempuan Bali  dengan balutan cerita fiksi. Tidak mengurangi kedalaman permasalahan yang muncul di sekitarnya.3

                Isu perempuan dengan latar belakang sosial-budaya yang ditulis oleh Oka Rusmini menunjukan akumulasi pengalamannya sebagai wartawan, dan kepiawaiannya menulis. Belum lagi, kedekatannya dengan isu sosial-budaya di Bali yang turut mempertajam gaya penulisan dalam karya-karyanya. Jika menulis adalah proses kreatif, maka kedekatan penulis dengan isu yang disoroti untuk mengetahui seluk beluk atau strukturnya.

                1. Mengutip dari Artikel “Oka Rusmini” – Ensiklopedia Sastra Indonesia (kemdikbud.go.id) ↩︎
                2. Mengutip dari Oka Rusmini, Lokomotif Pembawa Napas Perubahan Kaum Perempuan – Regional Liputan6.com ↩︎
                3. Mengutip dari Oka Rusmini, Sastrawan Pendobrak Adat Budaya Bali – Semilir ↩︎

                  Tarian Bumi, oleh Oka Rusmini.

                  Sinopsis

                  Novel Tarian Bumi mengupas tentang kebudayaan, adat istiadat, dan masalah sosial yang terjadi di Bali. Hubungan antara tingkatan kasta dengan kehidupan sosial masyarakat Bali berhasil dideskripsikan dengan sangat gamblang oleh Oka Rusmini. Mulai dari kesenian tari, hubungan dalam keluarga, hubungan dalam keluarga, relasi antar kasta, dan bagaimana perjuangan perempuan Bali yang ingin meningkatkan kasta mereka melalui pernikahan.

                  Sesuai dengan judul novelnya, kesenian tari bagi masyarakat Bali sangat lekat dengan seorang perempuan. Awal kisah dibuka dengan keterampilan menari Luh Sekar yang berasal dari kasta sudra. Luh Sekar ingin menjadi penari utama, menjadi penari yang mampu membuat para laki-laki keranjingan dan berkeringat. Tak hanya menjadi penari utama, Luh Sekar ingin memperbaiki kesejahteraan hidupnya, satu-satunya cara yang paling kental dan lekat di Bali adalah melalui pernikahan dengan laki-laki kasta brahmana. Pernikahan menjelma dalam ruang rumah tangga, suatu ruangan sosial yang terasa intim namun bisa jadi penuh prahara, karena rumah tangga tidak lain adalah akumulasi dari kondisi sosial-budaya-politik.

                  Akumulasi dari kondisi sosial-budaya-politik menerpa Luh Sekar. Perempuan yang lahir dari seorang laki-laki buronan politik, dan perempuan kasta sudra. Maka lengkaplah penderitaan Luh Sekar yang dikelilingi dengan sanksi sosial, dan cara hidup kasta sudra. Belum lagi, ibunya yang melahirkan dua anak dari laki-laki yang entah siapa. Luh Dalem kemudian menjadi representasi perempuan kasta sudra yang paling menderita mulai dari kehilangan suami, dicemooh, dikucilkan, bahkan diperkosa hingga mengalami kebutaan. 

                  Selain pernikahan dan keinginan meningkatkan kesejahteraan hidup, Oka Rusmini juga menyisipkan tentang perasaan cinta sesama perempuan. Luh Kenten menyukai Luh Sekar yang adalah sahabatnya, namun dengan susah payah Luh Kenten menahan perasaannya. Bukan menahan, tapi faktor tradisi (sosial-budaya) membuatnya harus menahan perasaannya. Melalui tokoh Luh Kenten, Oka Rusmini menggambarkan bagaimana laki-laki Bali hidup. Laki-laki Bali adalah manusia yang hanya bisa menakar dan mengukur kecantikan perempuan, mengamati tubuh perempuan tanpa rasa tanggungjawab, dan moral. 

                  Laki-laki seperti itulah yang dinikahi oleh Luh Sekar, Ida Bagus Ngurah Pidada, laki-laki dari kasta brahmana. Suami Luh Sekar ternyata bukan laki-laki yang bertanggung jawab karena selama menikah, Ida Bagus Ngurah Pidada bisa pergi berbulan-bulan, tanpa kejelasan apa yang dia lakukan. Bahkan akhirnya ketahuan mempunyai perempuan diluar pernikahan. Perempuan dari kasta sudra lain. Selain itu, karena menikah dengan laki-laki dari kasta brahmana, Luh Sekar harus meninggalkan kehidupannya sebagai perempuan kasta sudra, berarti meninggalkan keluarganya. Ambisi Luh Sekar belum juga habis, dia menuntut anaknya Ida Ayu Telaga Pidada untuk menikah dengan laki-laki dari kelas yang sama.

                  Representasi: Empat Tokoh, dan Empat Sudut Pandang.

                  Ada banyak tokoh yang disebutkan dalam Tarian Bumi, Ida Bagus Tugur, Ida Ayu Sagra Pidada, Ida Bagus Ngurah Pidada, Luh Dalem, Luh Sekar, Luh Kenten, Wayan Sasmitha, dan Ida Ayu Telaga Pidada. Namun, semuanya merupakan sudut pandang perempuan, hanya sedikit sudut pandang laki-laki yang muncul.

                  Empat tokoh yang diberikan banyak ruang oleh Oka Rusmini adalah Luh Sekar, Luh Dalem, Ida Ayu Telaga, dan Luh Kenten. Keempat tokoh tersebut mengalirkan kisah di dalam Tarian Bumi. Sudut pandang yang diberikan juga terasa sangat personal, seperti bagaimana Luh Sekar menilai Wayan Sasmitha, atau Luh Kenten yang menilai para lelaki di pasar. Keempat sudut pandang ini seperti suatu akumulasi. Mulai dari Luh Dalem yang menikah dengan laki-laki sudra, namun pernikahannya berantakan karena laki-laki yang dinikahi menjadi buronan politik. Lalu Luh Sekar, anak dari Luh Dalem yang merasa menderita karena berasal dari kasta sudra, dan belum lagi sanksi sosial karena ayahnya seorang buronan politik. Kemudian Luh Kenten yang menyukai Luh Sekar, dan mengutuk, meludahi para laki-laki. Hingga Ida Ayu Telaga Pidada yang dilarang mencintai laki-laki dari kasta yang lebih rendah. 

                  Masing-masing dari empat tokoh secara gamblang juga merepresentasikan perempuan di Bali. Perempuan yang tidak menempatkan ambisi dalam pernikahan; perempuan yang menempatkan ambisi dalam hidup hingga menemukan pernikahan sebagai suatu cara; perempuan yang tidak berambisi namun menyukai perempuan; perempuan yang mempertahankan kelanggengan stratanya; dan perempuan yang tidak mempermasalahkan ambisi, namun hasrat cintanya. Karakter ini tidak hanya mengalirkan kisah, namun menggambarkan situasi bagaimana dimana suatu budaya-sosial-politik secara perlahan membelenggu perempuan di Bali. 

                  Membaca Tarian Bumi, kita (sebagai pembaca) diajak untuk mundur melalui cerita-cerita flashback dari masing-masing tokoh. Sebenarnya alur cerita dalam novel ini terkategori campuran, namun dominan alur mundurnya. Jika dilihat dari generasinya maka seperti mulai dari generasi kedua, generasi pertama, lalu generasi ketiga. Teknis penulisan yang brilian untuk menengok perkembangan budaya-sosial-politik yang berpengaruh oleh perempuan, dan dipengaruhi oleh perempuan. 

                  Budaya, Pernikahan, dan Perempuan Dari Tiga Generasi

                  Membaca Tarian Bumi seperti membaca kondisi kultural di Bali, lengkap dengan cara hidup yang kadang terlewatkan begitu saja. Oka Rusmini berhasil membuat karya yang representatif tentang budaya dan perempuan di Bali. Gaya dan teknis penulisan yang jenius oleh Ayu Utami. 

                  Melalui keterwakilan tiga generasi dimana Luh Dalem sebagai generasi pertama, Luh Sekar sebagai generasi kedua, dan Ida Ayu Telaga Pidada sebagai generasi ketiga. Setiap generasi tidak lepas dari bagaimana pernikahan menjadi cara untuk mendapat kesejahteraan hidup, dan bagaimana pernikahan juga sangat kental dengan adat istiadat. 

                  Misalnya, Luh Sekar yang berasal dari kasta sudra menikah dengan laki-laki kasta brahmana berarti meninggalkan kehidupan, keluarga dan nama masa lalunya. Perubahan nama menjadi Jero Kenanga menandakan hal tersebut. Kemudian, bagaimana Ida Ayu Telaga Pidada yang menikah dengan laki-laki dari kasta sudra harus melakukan upacara Patiwangi. Melakukan upacara ini berarti meninggalkan semua ke-brahmanaan-nya. Artinya, Oka Rusmini tidak membagi begitu saja antara pernikahan dan adat istiadat, karena di Bali ini adalah suatu yang tunggal. 

                    Leila Salikha Chudori: Langkah Tepat Mengapresasi Sastra

                    Leila Salikha Chudori

                    Lahir di Jakarta 12 Desember 1962. Karya awal Leila dipublikasikan saat ia berusia 12 tahun di majalah Si Kuncung, Kawanku, dan Hai. Pada usia dini, ia menghasilkan buku kumpulan cerpen berjudul Sebuah Kejutan, Empat Pemuda Kecil, dan Seputih Hati Andra. Buku kumpulan cerita pendeknya Malam Terakhir telah diterbitkan tiga kali, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman. Bakat menulisnya memang tidak perlu dipertanyakan lagi, karena sejak kecil sudah pandai menulis dan memilih karirnya sebagai seorang wartawan pada majalah berita Tempo sejak tahun 1989. 

                    Sebagai seorang penulis, Leila memang menekankan pentingnya sebuah referensi dan tanggung jawab. Ada persoalan yang signifikan jika hanya mengutip tulisan para ahli atau penulis lain, malah kita (seorang penulis) tidak menyampaikan opini, cerita, argumen atau pandangannya sendiri. Selain itu, soal tanggung jawab rasanya Leila tidak main-main. Salah satunya dalam novel berjudul Pulang, pada bagian akhir Leila memberikan halaman khusus dengan judul “Beberapa Catatan Akhir” yang merujuk pada referensi atau stimulus proses kreatif Leila. Bahkan, bait-bait puisi yang dikutipnya tidak dibuat secara serampangan, Leila meletakan judul puisi, buku dimana bait puisi yang utuh tadi dimuat.

                    Jika menulis adalah proses kreatif, dan ide muncul dari membaca maka tanggung jawab seperti yang dilakukan Leila adalah cara yang tepat untuk mengapresiasi karya sastra.