Pulang, oleh Leila S. Chudori.

Sinopsis

Novel Pulang berlatar belakang pada April 1968, setelah peristiwa tiga tahun sebelumnya yang membumihanguskan PKI, termasuk semua pihak yang terlibat  dalam aktivitas PKI. Kantor berita turut menjadi sasaran karena sering menyinggung sentimen politik, termasuk profesi wartawan. Dari sini cerita novel Pulang berawal. 

Dimas Suryo, Nugroho Dewatoro, Tjai Sin Soe, dan Risjaf adalah empat orang yang bekerja di Kantor Berita Nusantara. Mereka terpaksa pergi ke negara lain sebagai buronan politik. Kepergian mereka ke luar negeri, awalnya bukan karena buronan politik, namun memenuhi undangan konferensi para wartawan. Berpamitan dengan biasa seperti akan pulang lagi. Demarkasi antara pihak yang pro PKI atau kontra PKI menjadi tidak jelas, karena lebih jelas mereka dianggap bersinggungan. 

Mereka berempat kembali bertemu di Paris. Setelah sebelumnya bulan Mei di tahun yang sama gerakan mahasiswa berkecamuk karena universitas ditutup secara paksa di Paris. Masing-masing mencari pekerjaan selama tinggal di Paris untuk bertahan hidup. Tidak lagi dianggap sebagai warga Indonesia, namun belum juga menjadi bagian dari Paris. Hingga akhirnya menetap, berkeluarga, menjadi bagian dari Paris dan mendirikan Restoran Tanah Air, empat sekawan tadi menjadi empat pilar Tanah Air. 

Berada di Paris tidak kemudian membuat mereka tenang, terutama Dimas Suryo, saling memberi kabar dengan kawan, dan kerabatnya di Indonesia melalui surat, dan telepon. Dimas Suryo merasa sangat rindu dengan Indonesia. Merindukan aroma tanah usai hujan, aroma yang tidak asing bagi Dimas, dan juga bayangan masa lalu tentang Surti Anandari. Surti Anandari menjadi cerita yang terus disimpan oleh Dimas sendiri sampai Vivienne mengetahui hal itu. Bagi Vivienne memiliki Dimas Suryo, bukan berarti memiliki Dimas seluruhnya. 

Vivienne adalah perempuan Paris, pertemuannya dengan Dimas bersamaan dengan berkecamuknya gerakan mahasiswa. Cinta pada pandangan pertama, keinginan untuk bersama, menemani Dimas Suryo, hingga akhirnya mereka berdua menikah, mempunyai seorang anak perempuan bernama Lintang Utara Suryo. 

Lintang Utara Suryo adalah perempuan yang akhirnya menemukan, dan membedah sejarah Indonesia di tahun 1965 sebagai tugas akhir akademiknya. Membedah sejarah di tahun 1965 sama saja dengan membedah sejarah ayahnya (Dimas Suryo), hubungannya dengan Surti Anandari. Mei 1998 Lintang tiba di Indonesia, kebutuhannya untuk tugas akhir banyak dibantu oleh Alam, Bimo, Mita, dan Gilang yang bergerak mendokumentasikan para korban tahun 1965. 

Tujuh Sudut Pandang Memperkaya Kisah Pulang. 

Novel Pulang sebenarnya berisi tujuh sudut pandang para tokoh. Cerita tiap tokoh menjadi narator yang saling melengkapi dan menghubungkan. Dikemas dengan gaya menceritakan diri sendiri dan tokoh lain secara personal. Kita (sebagai pembaca) bisa menemukan karakter tokoh Prakosa dan Alam dari mata Bimo, atau karakter tokoh Hananto Prawiro dari mata Dimas Suryo.

Dari tujuh sudut pandang para tokoh ada dua tokoh dominan yang mengisi cerita di novel Pulang, Dimas Suryo dan Lintang Utara. Mereka seperti perwakilan dari dua generasi yang berbeda. Dimas Suryo menjadi generasi pertama yang bisa memberikan detail peristiwa di tahun 1965 melalui surat-surat yang saling dikirimkan, atau penilaian personal Dimas pada tokoh lain. Kemudian, Lintang Utara menjadi generasi kedua dengan latar belakang di tahun 1980an sampai 1998 ketika menginjakan kaki di Indonesia. Melalui sudut pandang Lintang Utara, kita bisa menemukan bagaimana cerita lengkap generasi kedua, yang mana adalah anak-anak dari Hananto Prawiro, dan Surti atau anak-anak dari Aji Suryo. 

Menggunakan alur cerita campuran dengan menyajikan sudut pandang tokoh adalah ide yang brilian. Semuanya saling mengisi, seperti bagian cerita dimana Vivienne dan Dimas yang sudah cerai menjadi gamblang dalam sudut pandang Lintang, atau cerita mengenai Hananto Prawiro dari sudut pandang Dimas Suryo sebagai satu-satunya tokoh yang menganut ideologi komunisme. 

Rentetan Peristiwa September 1965, dan Romansa Asmara.

Setidaknya ada tiga potongan sejarah yang hadir sebagai latar belakang novel Pulang. Pertama adalah sejarah Indonesia pada bulan September 1965, termasuk rentetan peristiwa yang berpengaruh hingga tahun 1998, dan meletusnya demonstrasi mahasiswa pada Mei 1998. Selain Indonesia, potongan sejarah mengenai Perancis pada Mei 1968 ketika gerakan mahasiswa berkecamuk, dan rentetan peristiwa lainnya. 

Sejarah September 1965 di Indonesia menjadi konflik pertama yang membuat para tokoh menjadi eksil di negara lain, sama persis dengan kenyataan prahara. Efeknya beruntun sampai pada tahun-tahun berikutnya, bermula dari penggeledahan, penangkapan, interogasi dan penyiksaan pada keluarga eksil di Indonesia. Hingga sampai pada generasi berikutnya yang dianggap sebagai anak pengkhianat, belum lagi sanksi sosial, dan sulitnya bertahan hidup, tidak hanya soal pekerjaan saja. Bagian ini diceritakan dengan gamblang, dan tajam oleh Leila S. Chudori, ada pergolakan moral dan tentu saja mental, seperti kisah Rama, anak dari Aji Suryo, adik Dimas Suryo yang menutupi sejarah keluarganya. 

Sejarah keluarganya dianggapnya aib bagi Rama, baginya Dimas Suryo membawa nasib buruk dengan terlibat atau tidak dalam aktivitas PKI. Menganggap sejarah keluarganya sebagai aib, Rama tidak segan untuk berbohong, untuk tujuan bertahan hidup, mendapat pekerjaan. Namun, konflik keluarga Aji Suryo memuncak ketika Rama berniat untuk menikah dengan Rininta, anak dari atasannya di kantor konstruksi tempat Rama bekerja. Rama ingin mengajak keluarganya untuk bertemu Rininta, tapi tidak untuk mengenalkan aib keluarganya. Sementara Aji Suryo, menolak karena kebohongan itu sudah keterlaluan, sampai pada situasi ingin menikah, situasi rumah tangga (halaman 330 – 363) 

Pergolakan moral dan mental terasa intens dengan pengalaman interogasi Surti. Pengalaman interogasi yang menyakitkan (halaman 366 – 390) karena para interogator mengancam Surti, membuka kancing blusnya, bahkan menggunakan ketiga anak Surti sebagai ‘senjata’ membahas soal Kenanga yang masuk usia pubertas di tempat mereka ditahan adalah hal paling buruk bagi seorang ibu. 

Novel Pulang mengajak pembaca untuk memulangkan ingatannya. Sejarah kelam dengan situasi serba ketakutan yang adalah memoar dari sejarah Indonesia. Tidak menggurui pembaca mengenai peristiwa September 1965, kondisi politik, namun tidak juga memberikan kritik yang gahar atau menunjukan keberpihakan. Sejarah dalam novel ini menjadi kerangka cerita, dan perkenalan bagi para pembaca.

Dengan tebal buku hampir 500 halaman, siapa yang bisa membaca tanpa bumbu asmara di ceritanya? tentu saja ada. Dengan gaya realisme novel Pulang menyuguhkan hubungan asmara di antara para tokoh. Cerita cinta Dimas Suryo dengan Surti Anandari yang muncul orang ketiga Hananto, atau kisah cinta Dimas Suryo dengan Vivienne yang muncul pada pandangan pertama.

Novel yang terbilang lengkap dan kaya bagi para pembaca, dengan sejarah, dan politik yang kental. Belum lagi unsur asmara dengan gaya realis yang disingkap dengan tema cinta pandangan pertama. Atau kutipan puisi dari sastrawan seperti Chairil Anwar, James Joyce, Lord Byron, Pramoedya Ananta Toer, TS Eliot, William Shakespeare, WS Rendra, dan Walt Whitman. Buat kalian yang memilih buku ini untuk dibaca .. selamat memulangkan ingatan kalian pada peristiwa sejarah Indonesia.

    Pengalaman Menulis Bambang Sardjono Brotohusodo

    Assalamualaikum wrwb

    Menulis bagi saya adalah semacam perintah pribadi untuk diri pribadi. Karena menulis adalah menggambarkan, membayangkan, dan mentransfer ide, pengalaman atau pemikiran dan hanya kita sendiri yang tahu.

    Ini berbeda dengan menulis atas pesanan atau perintah atas permintaan orang lain (bisa atas perintah pimpinan, orangtua, teman atau bahkan anak).

    Pertama kali saya menulis agak bermutu adalah ketika SD kelas 6 tahun 196 berjudul “Gajah dan Semut”, berupa cerita anak-anak sekitar 300 kata. Saat itu saya kelas 6 di SD BOPKRI, jl. Gondolayu, Yogyakarta.
    Ide tulisan adalah pengalaman pribadi sewaktu saya memanjat pohon pepaya di tepi pagar samping rumah dan kaki saya dikerubuti semut. Semut-semut yang sedang berjalan beriringan ini keinjak kaki saya dan mereka mengerubuti kaki saya. Saya terpaksa turun dulu untuk mengusir semut-semut nakal ini dan naik memanjat lagi. Kejadian berulang karena saya menginjak-injak semut ini lagi.

    Malam harinya saya mulai tulis ide. Tulisan ini saya kirim ke majalah bulanan DJAJA (Jaya) di Jakarta. Saya tulis dengan tulis tangan saya di kertas bergaris.

    Eh, tak dinyana… tulisan saya dimuat 2 bulan kemudian. Senangnya bukan main. Saya matur bapak dan ibu dan bapak ibu tersenyum lebar menyemangati. Seminggu kemudian datang wesel untuk saya isinya honor Rp105,-(seratus lima rupiah). Uang ini saya gunakan untuk membeli perlengkapan Pramuka, yakni baret, tongkat Pramuka dan buku tulis.

    Pengalaman berikutnya adalah tahun 1969. Saat itu saya dan adik-adik nderek bapak ibu bertugas di Sumatera barat bagian Riau. Saya sekolah di SMP Xaverius Bukittinggi kelas 2. Saya mengirimkan gambar kartun di majalah Selecta di Jakarta.

    Saya buat kartun dengan tinta bak (tinta china) dan potongan kertas manila. Sempat 2 kali kiriman kartun dimuat di majalah Selecta. Kalau nggak salah saya dikirimi honor Rp200, (dua ratus rupiah). Tapi saya kirim berikutnya sudah tidak diterima, ya wis.

    Pengalaman saya berikutnya adalah sebagai ilustrator majalah sekolah IBS (Ilmu Budaya Siswa) di SMA 4 Jakarta. Selama setahun, saya dan teman dipilih menjadi ilustrator dicenterfold selama kurang lebih 1 tahun.

    Setelah itu hobi menulis dan menggambar praktis berhenti selama menjadi mahasiswa FKUGM sampai dengan lulus.

    Selama di puskesmas, saya juga buat sketsa hitam putih. Kemudian tugas di DepKes hobi ini tetap saya lakukan, tulisan saya dimuat di majalah MATRA. Kalau ada acara tugas belajar atau sekolah di luar negeri saya sempatkan bikin cerita pendek dan membuat sketsa.

    Ketika tugas belajar master ke Amsterdam saya sempat berguru kepada dosen saya Prof. dr. Herman Folder yang pintar melukis cat air/aquarelle.

    Pengabdian saya sebagai PNS Kementerian Kesehatan saya akhiri bulan Agustus 2015, dan di hari terakhir bulan itu saya meluncurkan buku “SAUDARAKU MARILAH HIDUP SEHAT SEJAHTERA DAN MAJU BERSAMA”, buku yang saya dedikasikan untuk saudara-saudara kita, masyarakat Papua.

    Berikutnya, adalah pengalaman membuat ilustrasi novel ya baru pertama kali saya lalukan untuk buku novel berbahasa Jawa dari kangmas dr. Budiono Santoso, PhD, alias Ki Setradjaja. Dari satu buku berjudul “Lakuning katresnan”, kemudian hingga buku ke-5.

    Hal yang paling sulit sebagai ilustrator adalah membayangkan para pemeran cerita. Postur badannya, gemuk kurusnya, pakai kacamata atau tidak kebiasaannya pakai kain, jarik atau jas.

    Ini perlu diskusi dengan yang kagungan novel tentunya. Setelah disepakati baru membuat gambar modelnya (ini juga harus didiskusikan dengan pengarangnya) dan paling akhir adalah membuat covernya. Itu bisa 4 sampai 5 kali ganti wajah.

    Membuat ilustrasi bagi saya adalah suatu hobi yg sangat menyenangkan, meredakan ketegangan pikiran, relaksasi, dan dengan harapan bisa menjiwai buku tersebut dan sokur-sokur disenangi.

    Ketika saya membuat ilustrasi buku teman-teman Konga Kupat Tahu ( KONco NGAsem Kedokteran Umum pitu paPAT TAHune mlebU) alias FKUGM angkatan 1974, yang juga mengasyikkan.

    Ada beberapa foto jepretan saya sebagai cover dan juga saya isi dengan ilustrasi lukisan cat air. Yang khusus adalah ketika membuat Cover “Mamaconga Berpuisi”. Ini dibuat mengambil latar belakang Ndalem Mangkubumen yang legendaris itu dan covernya hitam putih.

    Demikian ibu, bapak dan para kanca tentang kesan saya membuat tulisan atau ilustrasi. Pokoke anane mung seneng saja….saestu..

    Demikianlah.. Salam sehat.. Rahayu..

    Wassalamualaikum WRWB

    Jakarta, 12 Desember 2023

    (Bambang Sardjono Brotohusodo)

      Perlunya Pembatasan Pengguna Sepeda Motor Untuk Mengurangi Kecelakaan Lalu Lintas

      Sepeda motor merupakan salah satu alat transportasi yang paling banyak digunakan di Indonesia. Berdasarkan data sensus yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah sepeda motor di Indonesia mencapai 112.771.136 pada tahun 2019[1]. Jumlah tersebut selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya.

      Kepemilikan sepeda motor dapat menjadi salah satu pemicu kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Indonesia. Berdasarkan Laporan Nasional RISKESDAS pada tahun 2018, kecelakaan lalu lintas paling banyak terjadi ketika mengendarai sepeda motor, yaitu sebesar 72,7%[2]. Kemudian, korban kecelakaan lalu lintas oleh kelompok usia 15-24 tahun sebesar 79,4% dimana usia tersebut adalah usia para remaja.

      Berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dalam mencegah kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh sepeda motor. Namun, berbagai upaya tersebut belum membuahkan hasil yang signifikan hingga saat ini. Apabila jumlah sepeda motor masih sebanyak itu, tentunya akan sulit menekan angka kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh sepeda motor.

      Perlu adanya langkah yang bersifat ‘push policy’ yaitu menekan penggunaan kendaraan pribadi, baik dengan kebijakan pembatasan penggunaan maupun kepemilikan. Langkah tersebut sudah dilakukan di berbagai negara, seperti Singapura, Malaysia, Vietnam, China, dan Jepang. Pada tahun 2030 mendatang, Pemerintah kota Hanoi yang merupakan ibukota Vietnam akan melarang penggunaan sepeda motor[3]. Hal tersebut bertujuan untuk menekan angka kemacetan lalu lintas dan kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh sepeda motor. Sedangkan di Jepang, Pemerintah Jepang memaksa rakyatnya untuk beralih menggunakan kendaraan umum atau massal. Langkah tersebut dilakukan dengan cara membatasi lahan parkir, pengenaan biaya parkir, biaya tol, dan harga BBM yang tinggi, serta hukuman dan denda yang tinggi apabila terjadi pelanggaran[4]. Pemerintah Indonesia harus belajar kepada negara-negara tetangga terkait kebijakan pembatasan penggunaan maupun kepemilikan kendaraan sepeda motor. Hal tersebut dapat menjadi langkah besar untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh kendaraan sepeda motor.


      [1] https://www.bps.go.id/indicator/17/57/1/jumlah-kendaraan-bermotor.html

      [2] http://labdata.litbang.kemkes.go.id/images/download/laporan/RKD/2018/Laporan_Nasional_RKD2018_FINAL.pdf

      [3] https://oto.detik.com/motor/d-4921476/ibu-kota-vietnam-larang-sepeda-motor-2030-jakarta-berani

      [4] https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-2254990/kisah-jepang-paksa-warganya-beralih-dari-kendaraan-pribadi-ke-transportasi-massal