Saman, oleh Ayu Utami

Judul Saman diambil dari nama samaran salah satu tokoh dalam cerita ini. Seorang Pastor yang kemudian mengundurkan diri usai melalui banyak peristiwa di Prabumulih, tempat kelahirannya. Saman memilih untuk terlibat bersama masyarakat petani karet, hingga akhirnya terjadi penggusuran karena keinginan penguasa untuk mengganti komoditas karet dengan sawit.

Novel yang terbit tahun 1998 secara jelas dilatarbelakangi dengan masa rezim orde baru yang dalam pergerakannya menuju reformasi, tepatnya terbit 10 hari sebelum lengsernya Soeharto. Sebagai novel yang dilatarbelakangi kondisi sosial budaya dan politik di tahun 1990-an, Saman lekat dengan isu korupsi, kronisme, dan nepotisme yang merambah.

Tidak ada kisah cinta asrama yang picisan dalam novel Saman. Semua kisah cinta dibungkus dengan intrik sensual dan seksual. Tentang bagaimana perempuan dan laki-laki mempunyai peran yang terlampau berbeda dalam struktur dan sistem sosial, tapi Saman menembus tabu dalam kisah cintanya.

Carut Marut Zaman Dalam Tiga Cerita Tokoh. 

Saman menawarkan tiga sudut pandang yang dibangun dari tiap tokoh. Pada awal cerita, kita akan dibuka dengan sudut pandang Laila Gargarin. Seorang perempuan yang secara penokohan berkarakter polos. Dalam sudut pandang Laila Gargarin kita akan dikenalkan dengan dua tokoh lain yaitu Saman, laki-laki yang dulu pernah menjadi tambatan Laila, dan Sihar, masih laki-laki tambatan hati Laila, tapi sudah memiliki istri. Kemudian diceritakan bagaimana akhirnya Saman, Laila, dan Sihar dipertemukan.

Selanjutnya pembaca akan bertemu dengan sudut pandang Saman, tokoh utama dalam cerita ini. Dalam sudut pandang Saman kita akan bertemu dengan banyak tokoh, namun tokoh-tokoh saat masa kecil Saman, saat Saman menjadi Pastor, dan saat aktivis. Alurnya maju mundur yang lekat dengan penggambaran geografis Prabumulih.

Kemudian pembaca diusik dengan sudut pandang dari Shakuntala. Melalui Shakuntala kita akan bertemu realita yang dibungkus dengan analogi dan metafora soal perempuan dalam struktur sosial. Perempuan dalam ranah privat seperti keluarga yang menjadi bentuk investasi sehingga harus dijaga, Ayu Utami menyebut fenomena itu dengan “Porselen China”. Kemudian tentang perempuan dalam relasi dengan laki-laki, kental sekali dengan sarat kebebasan untuk memilih.

Sudut pandang Yasmin menjadi penutup cerita Saman. Yasmin dikenalkan sebagai perempuan pintar yang bekerja sebagai aktivitas HAM di Amerika. Pertemuannya dengan Salman tatkala sewaktu membantunya untuk pergi kabur meninggalkan Indonesia setelah dianggap sebagai buronan. Yasmin dan Shakuntala bekerjasama untuk menciptakan identitas baru agar Saman lolos secara administrasi. Tapi, sekali lagi kita akan diusik mengenai hubungan Yasmin dan Saman.

Porsi Cerita Yang Tidak Ada.

Meskipun dibuka dengan cerita Laila dengan Sihar Situmorang, kemudian diceritakan hubungan Laila dan Saman. Kisah persahabatan Laila, Shakuntala, Cok dan Yasmin. Memang bukunya melempar banyak isu tentang penambangan oli, perkebunan karet dan kelapa sawit dan kebebasan pers. Namun, ada kisah yang benar-benar tidak selesai. 

Kisah tentang Laila, sama sekali tidak selesai.  Setelah bertemu Sihar Situmorang, dinamika kisah cinta antara perempuan muda dengan laki-laki beristri, lalu hubungan pertemanan, dan hubungan dengan Salam tidak ada porsi cerita lebih untuk Laila. Justru ditutup dengan munculnya Yasmin.

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *