Padang Ilalang di Belakang Rumah, oleh NH Dini

Padang Ilalang di Belakang Rumah - Nh. Dini

Sinopsis Buku 

Trilogi kenangan oleh NH Dini berjudul ‘Sebuah Lorong di Kotaku’, ‘Padang Ilalang di Belakang Rumah’, dan ‘Langit dan Bumi Sahabat Kami’, iya, ketiga buku ini adalah pengalaman penulisnya dengan latar belakang situasi yang berbeda. Buku ‘Padang Ilalang di Belakang Rumah’ menceritakan bagaimana situasi setelah hengkangnya Belanda, dan kedatangan Bangsa Jepang yang semula dianggap saudara sekaligus penyelamat. 

Seperti judulnya, halaman belakang rumah Dini menjadi tempat yang paling disukainya. Padang Ilalang yang menjadi tempat kedua kakak perempuan, dan dua kakak laki-lakinya menjadikanya taman bermain. Padang ilalang yang menjadi kerinduan bagi Dini, ketika dia harus tinggal di rumah Pamannya untuk bersekolah dan memangkas kebutuhan ekonomi, atau ketika Dini turut serta ke Ponorogo, dan Semarang, atau mungkin sampai saat ini.

Dalam suasana kemiskinan Dini kecil tetap tumbuh bersama asuhan dari kedua orangtuanya. Ekonomi dan kesejahteraan keluarganya terus menurun, bersamaan dengan kesadaran Dini yang turut bertumbuh. Dini mengingat bagaimana ibunya menyesuaikan diri dengan zaman, turut menopang ekonomi keluarganya. Ibunya dengan langkah yang tertatih, secara perlahan berlapang dada. Berjualan kue, dan membatik. Dini mengingat dan menceritakan kisah ibunya dengan detail yang sangat hangat. Bermula dari penolakannya terhadap situasi zaman, dimana dulu ibunya adalah keturunan bangsawan yang terpandang, mulai berjualan kue, dan menerima pesanan kain batik dari pengusaha. 

Detail Dari Satu Sudut Pandang

Pembaca secara jelas hanya akan menemukan satu sudut pandang dari Dini. Beberapa kali ada percakapan dari tiap tokoh, seperti perdebatan ayah dan ibunya ketika Heratih pertama kali mempunyai kekasih, atau percakapan ayah, paman, dan ibu ketika Teguh terjepit di tengah pohon belimbing. Bahkan, ketika ibu mencoba menerima perubahan dan turut berubah melalui percakapan nya dengan Bu Rut yang menjual pakaian bekas di pinggir jln. Kranggan. 

Satu sudut pandang dari Dini menceritakan secara detail tiap peristiwa yang direkam saat kesadaran Dini mulai bertumbuh. Melalui Sudut pandang ini juga pembaca dikenalkan dengan karakter tiap tokoh, seperti kakaknya Nugroho yang menginjak remaja, laki-laki nakal yang selalu mengganggu Dini. Ibunya yang galak tapi penuh kasih sayang juga berusaha mengikuti perubahan zaman. Malah, ada cara penggambaran tokoh yang khas ketika Dini menyadari saat Heratih kakak perempuannya akan menikah, dimana Ibunya semakin tekun bekerja, sementara ayahnya percaya dan pasrah jika ada jalan untuk menyokong uang di pernikahan Heratih.

Dini menggambarkan dua suasana yang sangat berbeda, yang mampu membuat pembaca tenggelam. Pada bagian-bagian awal, pembaca akan menemukan cerita yang sangat hangat tentang hubungan keluarga, hubungan kakak-adik, dan hubungan saudara. Kemudian di bagian-bagian akhir suasana tegang terus bermunculan, sejak kedatangan kepala kampung, dan ayah Dini yang mengubur barang berharga di dalam rumah. 

Secara alur, memang pembaca akan mengingat peristiwa masa lalu yang menjadi pengalaman penulis, namun plotnya akan terus maju. Ini akan tampak dengan jelas pada partisi penggambaran tubuh, dan watak dari tiap tokoh. 

Lubang di Rumah, Pecahnya Pertempuran.  

Setelah mendapat peringatan dari kepala kampung, ayah Dini bergerak cepat, mulai menguburkan barang-barang berharga di dalam rumah, hingga mengatur persediaan makanan. Dan, benar selama 5 hari berturut-turut pertempuran pecah, pemberontakan pada Jepang. Peristiwa ini memang tidak mengerikan seperti di kota, namun catatan kemiskinan dan efek dari pertempuran sangat jelas, setidaknya dapat ditemukan dalam novel. 

Selama 5 hari berturut-turut, ayah Dini melarang keluarganya untuk keluar dari rumah, dan salam 5 hari itu mereka dikejutkan dengan peluru-peluru dari bayonet yang menembus dinding rumah. Suara, dan lubang di dinding menimbulkan rasa takut dan kengerian bagi mereka. Dalam cerita, bagian ini dituturkan oleh penulis begini:

“Beberapa kali kami bahkan merasa mejadi sasaran pertempuran. Suara-suara teriakan dan seuran dalam bahasa Jepang amat ribut di kebun tangsi, terus ke belakang rumah. Disusul oleh derap sepatu yang berlarian di jalan kampung samping rumah. Lalu siutan peluru dari segala penjuru. Aku menelungkupkan diri di bawah mejad, menahan napas. Dalam sinar remang-ramg petromaks, kuterka bibir ibu tidak hentinya bergerak mengucapkan doa selamat…” (halaman 79)

Pecahnya pertempuran menjelang pernikahan Heratih. Usai 5 hari yang penuh kengerian, Heratih berpamitan pergi ke Solo dengan kereta untuk meminta restu dari keluarga ayah. Namun, selama berhari-hari Heratih tidak kembali, hingga suara dari radio menceritakan bahwa Indonesia telah merdeka. Kemerdekaan Indonesia masih menyisakan pertanyaan bagi Heratih, dan keluarga, hingga akhirnya Ayah dan Teguh memutuskan untuk mencari Heratih ke Solo.

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *